Jalan-jalan Kota Surabaya

Menapaki Kisah Abadi Masjid Ampel

Masjid Ampel

SurabayaSatu, SURABAYA – Surabaya, layaknya sebuah kampung besar, memiliki banyak bangunan tua. Sebagian besar memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Itu sebabnya, sebagian di antara bangunan-bangunan ini mengantongi label cagar budaya dan dilindungi oleh pemerintah.

Pemerintah Kota Surabaya sesungguhnya cukup serius mengelola aset bersejarah ini. Akhir 2019 lalu misalnya, Pemkot bekerjasama dengan tim dari Trowulan melakukan pendataan di Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel Surabaya, demi mendapat data akurat terkait aspek sejarahnya.

Kawasan Ampel, sejauh ini jadi ikon wisata religi yang tumbuh alami. Di hari-hari khusus, Masjid Ampel sebagai sentra kawasan bersejarah tak pernah sepi pengunjung.

Di luar wisatawan muslim yang memang ingin berziarah ke Makam Sunan Ampel dan menjalankan ibadah di masjid, beberapa orang datang untuk melihat Kampung Arab, Pasar Ampel, dan belanja produk kuliner. Seperti roti mariam, kurma, gule kambing, dan masih banyak lagi.

Di bulan Ramadhan, kunjungan ke Ampel bisa berlipat. Sumber SurabayaSatuCOM di tempat ini mengaku, mulai malam 1 Ramadhan, pengunjung meluber hingga ribuan. Di sepuluh hari terakhir puasa, jumlahnya berlipat hingga 10 kali hari biasa di Bulan Ramadhan.

“Mereka datang untuk berburu malam seribu bulan. Makanya pasa malam ganjil jumlahnya puluhan ribu,” kata Hamdani, 47 tahun, pedagang di Pasar Ampel. Dalam kondisi demikian, lanjutnya, para pedagang bisa panen.

Komunitas fotografi dan videografi dari dalam dan luar kota juga sering datang untuk mengabadikan sisi-sisi bersejarah di Ampel. Maklum, di tempat ini, dengan mudah kita bisa menemui bangunan dengan arsitektur lawas yang melengkapi persepsi multi kulturalisme Kawasan Wisata Religi Masjid Ampel.

Masjid ini didirikan Sunan Ampel pada tahun 1421, dibantu sahabat karibnya Mbah Sholeh dan Mbah Sonhaji, serta para santrinya. Masjid ini dibangun di atas tanah seluas 120 x 180 meter persegi.

Menurut catatan sejarah yang ditulis di dalam Kitab Pengging Teracah, tanah tersebut merupakan hadiah dari Raja Brawijaya, penguasa Mojopahit kala itu. Sunan Ampel mendapat ganjaran Ampilan tanah seusai menghadiri undangan Raja Brawijaya, tanah itu untuk menyebarkan agama Islam di sisi utara tanah Jawa Timur.

Masjid yang terletak di Jalan Ampel Suci 45 atau Jalan Ampel Masjid 53 ini bangunannya bergaya bangunan Jawa pada jaman dahulu, memasuki kawasan masjid, kita bisa melihat menara setinggi 30 meter di dekat pintu masuk sisi selatan.

Di kompleks masjid, terdapat pula sumur dan bedug kecil peninggalan Sang Pendiri, serta 16 tiang setinggi 17 meter (lengkap dengan ukiran kaligrafi bertuliskan Ayat Kursi) yang menyangga atap masjid seluas 800 meter persegi.

Tak kalah menarik juga, hiasan lambang Kerajaan Majapahit di bagian atas pintu yang mengelilingi Masjid Ampel juga terpampang indah. Tepat di belakang Masjid Ampel terdapat kompleks makam Sunan Ampel (wafat 1481 Masehi) bersama para sahabat dan santrinya. (hendro d. laksono)

Advertisement

Kirim Komentar